← Kembali ke Berita

Anies Klaim JLI Jadikan Warga Jakarta Lebih Sejahtera

09 May 2021
126 Pembaca
Bagikan:
Anies Klaim JLI Jadikan Warga Jakarta Lebih Sejahtera

Jakarta (ANTARA) – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengklaim program JLI yang dibentuk sejak 2018 menjadikan warga Jakarta lebih sejahtera. Hal itu karena, kata Anies di Jakarta, Kamis, dengan tarif Rp5.000 per tiga jam melalui kartu transportasi, penumpang bisa naik angkutan umum seperti TransJakarta dan angkutan perkotaan (angkot) berkali-kali tanpa ada biaya tambahan.

“Di Jakarta ini hampir bisa dikatakan pengeluaran keluarga bisa sampai 30 persen untuk transportasi. Jadi, 30 persen dari uang bulanan itu bisa habis untuk transportasi,” kata Anies. Selain lebih hemat, lanjut Anies, keberadaan JLI juga mendorong masyarakat beralih naik angkutan umum, terutama bus TransJakarta. Pada akhir 2016, jumlah penumpang TransJakarta mencapai 340.000 orang per hari, kemudian pada 2020 naik 3,5 kali lipat menjadi satu juta lebih penumpang.

“Kalau armada kami tambah, artinya punya uang, tapi kalau penumpang itu tambah, artinya ada perubahan perilaku warga Jakarta. Dari naik kendaraan pribadi berubah menjadi naik kendaraan umum,” kata Anies. Dengan perubahan itu, lanjutnya, biaya hidup warga menurun karena pengeluaran mereka untuk transportasi jauh lebih rendah. Dengan kata lain, tegas Anies, harapannya mereka bisa lebih sejahtera karena anggarannya bisa digunakan untuk kebutuhan yang lain.

Sistem JLI ini, kata Anies, tidak hanya menguntungkan masyarakat, tetapi juga para sopir dan pemilik kendaraan yang pendapatannya lebih pasti karena DKI telah membayarnya berdasarkan satuan kilometer. Sementara sopir tidak perlu mengejar setoran, pemilik kendaraan akan merasa tenang karena mobilnya lebih terawat melalui pendapatan yang dapat diprediksi dengan baik. “Untuk angkot, misalnya dalam kerja sama dengan TransJakarta, mereka tidak lagi dihitung pendapatannya berdasarkan jumlah penumpang, tapi dihitung berdasarkan kilometer per hari, sehingga angkotnya tidak ngetem. Karena dia ditargetkan satu hari sekian kilometer, misalnya minimal 90 km, maksimal 110 km, itu tidak boleh lebih atau kurang. Jadi, ada penumpang atau tidak ada penumpang, dia akan berkeliling terus,” ucapnya.

Anies juga menjelaskan penamaan JLI yang disebutkannya Jak memiliki makna Jakarta, sedangkan kata Lingko diambil dari bahasa daerah Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang artinya sistem distribusi irigasi persawahan berbentuk jaring laba-laba, telah diusulkan untuk diadopsi masuk ke bahasa Indonesia. “Bahasa itu kami usulkan untuk diadopsi menjadi Bahasa Indonesia. Alhamdulillah, sekarang sudah diakui sebagai Bahasa Indonesia, jadi Jaklingko. Dengan Mikrotrans ini seluruh operator angkot semuanya, termasuk bus menengah semuanya beroperasi dalam satu sistem,” ucap Anies.

Apakah artikel ini bermanfaat?

Berikan rating Anda untuk membantu kami menyajikan konten yang lebih baik.

Belum ada penilaian.